Dariku
Epilog
Setumpuk harap mulanya ingin aku wujudkan blogsite ini untuk seseorang yang memiliki tempat tersendiri dalam ruang hatiku. Awalnya ingin kupahat kata saat kebersamaan itu ada. Ketika cerita bagaikan sebuah atmosfir musim semi. Penuh harap dan juga asa. Sebagai kejutan bahwa dialah sumber ilham yang memberikan mengalirnya kata dalam cerita. Sebagai bingkisan yang sangat spesial walau maya namun nyata adanya. Tapi ketika saatnya musim penghujan dan badai menerpa semuanya urung untuk aku ungkapkan. Mungkin terlalu cepat bagiku untuk menyelami bahwa aku hanya orang biasa yang, tak memiliki arti dibanding dirinya yang pantas menerima lebih dari apa yang bisa dan sanggup kuberikan saat ini.
Aku tidak menyesalkan apa yang telah terjadi. Aku bangga bahwa dalam padang salju ini kurasakan hangat mentari mengaliri gletser. Kerlip cahaya bintang yang menemani malamku. Serta langit jingga yang mewarnai senja yang selalu terlihat resah. Tetap mencintai terangnya siang atau merangkul kelam malam. Begitulah nuansa berseteru disenja langitku. Biru dan merah jambu, jingga dan kelabu. Bimbang dan ragu yang mengisi galaunya kalbu.
Lantas dengan pelan dan perlahan aku “cungkil” dan “kubongkar” satu demi satu tulisan yang telah ku postingkan. Agar tak lagi ada syak diantara dua. Pilah dan pilihanku mungkin tak sama dengan aku rasakan dan juga apa yang dirasanya. Postingku mungkin hanya kata, hanya cerita, hanyalah rentet untai kata yang bisa kutulis. Cukup kiranya apa yang telah aku rasakan menjadi cerita dari jurnal diariku yang kuisi secara berkala. Dan hanya aku saja yang membaca dan kutuliskan untuk diriku. Aku menjadi ragu apa guna kubagi tulisan tentang cinta dan sayang, kepada orang yang tak mengenalinya. Sebab cinta dan sayang adalah untuk dipahami dan dijalani, membuka diri dengan menerima apa yang terjadi.
Kelak saat semua itu kembali mengutuhkan serak serpih yang terjadi. Aku bangga dengan semua yang melaluiku. Kini kupaham hanya cinta sejati yang saggup dibuktikan dengan melepaskan dan merelakan. Meski bahagiamu adalah luka bagiku. Dan maafku bila kusetia dalam naifnya senyapku. Saat bayangmu tak juga memudar usang. Menjelma dalam tak mudah kubuang. Hanya itulah yang sanggup aku genggam. Entah kenapa tak bisa aku jelaskan musababnya. Melalui doa dan harap aku berharap kelak engkau akan mengerti dan mengetahui semunya batas cakrawala langit dan bumi itulah semua rasa sayang dan cinta yang kuberi. Karena aku begitu mencintaimu.
Dari ku untuk kamu