Tak Kan Ada Support Yang Gratis

Dalam hidup ini saling menolong merupakan sebuah hal yang terpuji, sebagai cermin diri bahwa kita adalah manusia yang tak bisa hidup seorang diri. Perbuatan saling menolong hendaknya dilakukan tanpa pamrih, tak memiliki dalih untuk tujuan tertentu. Sekaligus dilakukan dengan ketulusan dan kemampuan yang ada pada diri kita. Itulah sebuah norma dalam kehidupan bermasyarakat dan sebagai wujud bahwa kita melaksanakan titah Tuhan sebagai sang pencipta. Bukan karena idioma dan dogma Pancasila. Sebab itu semua hanyalah sebuah doktrin yang dulu pernah dan selalu akan diulang dalam pembelajaran bangku kuliah. Sebagai pelajaran dimana hendaknya kita juga mampu melaksanakan dengan seutuhnya.

Lantas kenapa aku coba menuliskan dalam artikelku ini. Adakah kaitan dan hubungan yang ingin aku tulis. Bukan dan bahkan jauh dari pesan moral dan etika. Tulisanku ini hanyalah sebuah perspektif yang coba aku tulis sebagai jawaban seorang teman. Saat dia menyampaikan keluhan dari seseorang yang kusebut (dan ini hakku) customer ditempat aku berkarya. Bahkan rekanku ini terkadang juga sewot dengan line phoneku. Tepatnya line pribadiku sebab tempat kerjaku sama sekali tak membiayai pulsanya. Jadi aku sebagai pemiliknya mutlak dan boleh saja membatasi siapa saja yang akan aku angkat dan juga bebas aku non aktifkan sesukaku. Bukankah itu hakku. Terserah orang mau berkomentar.

Terlebih bila ada pelanggan yang menanyakan sesuatu lantas meminta support via phone. Sementara aku juga sedang menunggu telepon dari seseorang yang aku anggap penting. Lantas siapakah yang diuntungkan. Customer diuntungkan dengan kepuasaan layanan tempat aku bekerja. Semua kegusarannya tercerahkan dengan sebuah percakapan ataupun sekedar jawaban dari SMSku. Sumbangsihnya aku memiliki kredibilitas bagi mereka sekaligus mendapat point kepercayaan mereka. Saat semua itu dilakukan saat jam kerja. Mungkin wajar, meski terkadang aku juga keberatan dan justru terganggu dengan menulis SMS. Bayangkan betapa repotnya jari ini bergumul dengan pad handset. Lalu pastinya pulsa demi pulsa menyampaikan pesanku. Dan berkuranglah balance pulsa milikku.

Terdengar arogan kuakui. Sebelumnya harap diingat terkadang karena kesibukan kerja menyita waktuku sendiri. Lantas boleh saja aku memilih untuk tak diganggu sejenak oleh customer. Sementara aku ingin merampungkan semua tumpukan antrian pekerjaanku. Juga ingin mencoba bertahan dengan suara cacing perut yang melakukan demo disana. Sejenak istirahat melepas penat untuk mengumpulkan tenaga atau ide sebuah solusi yang pas bagi kesulitan ditempat kerja.

Yang lebih menyedihkan terkadang dari mereka tak mengenal waktu. Jam kerja telah usai lalu mereka menanyakan via SMS ataupun menelepon hingga menyita waktu istirahat. Waktu yang aku anggap sebagai masa aku menikmati kehidupan milikku sendiri. Lain kata bila telah buat apointment dan itu karena aku kurang puas dalam melaksanakan kewajibanku saat ditempat kerja. Walau dalam konten cerminku sendiri. Aku tak pernah puas dalam mendapatkan sesuatu. Wajar itulah manusia dan dengan sesukanya menanyakan apa yang didapatnya kepada seseorang saat dia mendapatkanya atau membelinya.

Kadang juga aku begitu terkesiap dengan penjelasan dari seberang sana. Yah meski aku coba bersabar dan juga berlapang dengan etika yang aku miliki.

“Begini saya ada kesulitan dengan MacBook saya. Kebetulan barang ini aku peroleh / dikasih temen saya. Beliau merekomendasikan kepada saya bahwa anda bisa membantu kesulitan yang saya temui. Saya mengalami kendala dengan mengaktifkan / men-setting internet dengan modem atau kabel jaringan kantor saya. Bla… bla… blaa…”

Waduh kenapa bisa sampai sebegitunya diriku jadi rekomendasi. Lah bukti apa yang bisa aku lihat dari sini itu barang dari tempat kerjaku atau bukan. Lantas bila benar. Apakah itu memang sekedar dikasih, diperoleh, dipinjamkan atau apalah sebutannya. Bagaimana kalau itu dijual ulang dan yang sudah pasti untung bukan tempat aku bekerja. Terlebih aku juga tak memperoleh bagian dari keuntungan. Sementara si penjual bisa enak dengan keuntungannya. Diriku sibuk dan berkutat dengan kesulitanku dan juga berbagi dengan keahlianku.

Kuakui aku sebagai tenaga teknis meski terkadang juga “melompat” sebagai sales. Sebisa mungkin aku menjaga kepercayaan karena meminta advise dariku. Menjelaskan kepada mereka secara teknis dengan komparasi dari brand kompetitior. Lalu mengarahkan produk yang tepat sesuai dengan fungsi dan kemampuan daya beli mereka. Mungkin rekan yang lain juga demikian langkahnya sebagaimana aku lakukan.

Lagi-lagi soal support atau pertolongan buat user atau pelanggan. Kadang dengan mudah dan santainya seorang rekan meminta aku menerima telepon. Sementara aku diberitahu bahwa ini adalah teman dari mbak, mas, pak, ibu yang kemarin membeli produk ini atau itu. Ingin penjelasan bagaimana caranya untuk seperti ini atau seperti itu.

Sebagai manusia boleh dan lumrah aku juga merasakan kejengkelan. Sudah pasti kebanyakan software menggunakan bahasa non Indonesia. Pun bila ada yang menggunakan bahasa Indonesia bagiku justru rancu. Hingga untuk mengartikan sebuah kata yang mewakil perintah masih juga tak membuka kamus justru rela menelepon. Bukan menunjukan dewasanya mereka dan kreativitas imajinasi. Namun kulihat kebodohan yang tak perlu aku cerita disini.

Untuk semuanya hanya satu sikap yang aku ambil. Meski terkadang berat. Namun inilah dunia kerja. Dunia dimana seseorang dinilai dengan materi karena kemampuannya. Karena keahliannya dari kreativitas dari akumulasi waktu masa lalu. Tak akan ada support yang gratis. Bukan karena doktrin Pancasila yang tak berhasil merasukiku. Semua karena justru aku serasa tak dihargai karena kemampuanku dan keahlianku. Aku telah dinilai lain karena saat aku bersikap adil dan baik. Waktu justru membuktikan aku terombang dan dibuang saat transformasi keahlian itu terjadi. Maafkan aku karena tak bisa lagi mempercayai apa yang dulu menjadi nilai idealismeku. [ Dariku - 200711020210 ]

One Response to “Tak Kan Ada Support Yang Gratis”

  1. cahngunung Says:

    matur nuwun…………………………….:)

Leave a Reply