Jangan Beli iPod

Tunggu dulu dan coba sejenak meditasi bertanya pada diri. Kalau kita beli mp3 player aku sarankan jangan beli produk milik Apple namun kalo mau beli sebuah pemutar musik pilihan kamu sudah benar. Semakin bingung atau malah tambah bingung. Ya inilah tujuan sebenarnya aku menulis produk ini. Aku sendiri terkadang begitu repot menjelaskan kepada tiap orang yang cuma ingin membeli sebuah produk simbol kemewahan dan kualitas.

Mungkin benar orang berduit tak mau dibuat repot. Hanya orang yang pas-pasan dan tak mampu saja yang boleh repot. Dan hanya orang yang mau repot mengerti saja yang mau melanjutkan tuk baca tulisanku ini. Tambah repot lagi kalo tak mampu membaca perintah menu iTunes. Cuma pengin ngerti klik ini klik itu tahunya beres. Capek deh. Mending ga usah baca ya…

Memiliki mp3 atau mp4 produk Apple mungkin untuk beberapa orang sebuah kebanggaan. Bagi yang belum paham dan baru saja mempunyai dalam genggaman bagai sebuah bencana dunia baru. Serasa begitu mentah-mentah kita ditipu oleh review oleh artikel yang bertebaran penuh pesona disana-sini. Begitu banyak persepsi tentang pemutar mp3 ini yang begitu rancu dengan kemudahan transfer lagu. Kemudahan kompatibilitas tentang system yang selama ini berlaku di negeri ini. Pun begitu juga dengan jargon “plug n play” lalu “drag move to copy”. Duanya begitu simpel tuk di ucap dengar. Membandingkan iPod memang bukan produk dari akar Windows. Ipod lebih milik dari Apple. Pun juga sifatnya personal. Jangan heran kalo nantinya pengin kopas mp3 dari kompie teman bila salah klik tanpa tahu dan kenal triknya perintahnya. Lagu yang telah tersimpan jadi hilang.

Terkadang aku juga mau tertawa saat seseorang mencoba sebuah player mp3. Susah payah aku konversi cari lagu dari CD Audio original. Lah yang mencoba malah cari lagu favoritnya untuk didengarkan pada devise tersebut. Sebagai komparasi. Aku rasa itu bukan alasan untuk menjudgment bahwa alat player tersebut tak bagus. Jujur orang lebih senang dengan lagu dari pada kualitas suara. Dan itu aku lakukan dengan observasi dengan lagu yang direproduksi dengan cara merekam dari pita kaset lalu menjadi sebuah file heksa biner. Payah kalo cuman mau denger lagu “jedag-jedug” buat apa susah berlama-lama manggut-manggut. Cari saja earphone atau headphone yang diembel-embeli “Giga Bass”, “Teta Bass”, “Hell Bass”, “F#*k$h%t Bass”. Sementara equalizer playernya diset dengan senada. Tapi itulah persepsi suara. Kontes audio mobil saja kelasnya beda antara SPL dan SQL. Hal ini berlaku juga saat orang beli speaker. Semoga saja aku masih mampu bersabar memberi penjelasan tentang hal tersebut. Semoga saja angka spesifikasi bunyi itu sanggup juga didengar dengan logika mereka. Bukan dengan telinga yang kadang berkonspirasi menipu kita.

Jadi tak salah bila istilah GiGo itu berlaku dan memang selalu ada pada ranah maya yang diselaraskan rasa. Bahwa bila kita memasukkan sampah yang kita dapatkan bukanlah emas melainkan tetap juga sampah. Bila telinga kita mendengar sebuah suara serapah, mulut kita boleh dan pasti akan bersumpah juga. [ Dariku - 200710232124 ]

2 Responses to “Jangan Beli iPod”

  1. manteb alesannya coy..
    trus gimana ni rekomendnya?

  2. percaya….n setuju…
    but image d orang2 tuwh lowh….

Leave a Reply